Saturday, 14 May 2016



Marry you’r daugther
Sudah sedari tadi Dika bergelut dengan pikirannya sendiri, mukanya yang asem bertambah asem karena ekspresi wajahnya yang kusut ditambah rambutnya yang acak-acakan, sangat di dukung lagi dengan setelan pakaiannya dari mulai kaos putih yang sudah kusam,lebih pantas di sebut cream kecoklat-coklatan di tambah celana boxer yang gambarnya sudah tidak diketahui lagi identitasnya, sungguh perpaduan yang sangat serasi dengan sosok Mahardika
“Kak Dik, dulu aku sempat kepikiran kenapa Kak Luna mau sama kak Dik? Padahal kan yang matanya Minus itu aku” ujar Kesya spontan , gak pakek rem, gak pakek mikir juga kali ya? Lebih tepatnya ceplas ceplos “hah?? Matanya Kak Luna kamu itu emang enggak minus key,Cuma kamu aja yang gak ngerti selera klasik :p” jawab Dika disertai cibiran terpendam milik Bryan karena secara tidak langsung telah disindir “klasik?? Jadul dong kak hahaha” Bryan kembali bersemangat mendengar jawaban yang selalu saja bisa di lontarkan pacarnya itu, Kesya memang tidak salah sedari dulu selera mereka selalu beda jauh kalau Luna kakak kandungnya itu suka sesuatu yang berbau unik dan klasik beda halnya dengan Kesya yang seleranya berbanding 180 derjat dengan Luna, kesya lebih suka sesuatu yang terupdate, ngetrand, dan booming dan hal itulah yang selalu menjadi bahan keributan antara 2 kakak beradik ini. “Udah deh kamu mau bantuin kakak buat ngelamar mbak Luna gak sih?”
“Hah....apaaa?? ngelamar??” spontan Kesya terbelalak, mulutnya ternganga lebar, hingga jajaran giginya yang dikawati terlihat jelas, Bryan pun sekarang tau jumlah gigi pacarnya ini, kemudian masih dengan reaksi Kesya yang belum kelar kagetnya, Kesya juga tiba-tiba merasa mual dan mulas-mulas, ditambah pusing yang sangat berat (itu sebenarnya shock apa gejala penyakit sih?) “ Key... kok kamu baru sekarang shocknya sih?” tanya Bryan melihat kelakuan sang pacar yang jauh dari normal “Gimana gak shock? Kak Luna kakak aku satu-satunya mau dilamar orang mon??” rintih Kesya mengharu biru dan sempat menyeka ujung matanya dengan kemeja Bryan “Kuping kamu dibawa kemana sih? Kemarin kan kak Dika udah ngomong” sergah Bryan sebelum Kesya menjadi-jadi, sementara Dika Cuma melongo kesal dengan tingkah calon adik iparnya itu yang di karuniai wajah cantik bak Selena Gemes meski matanya harus dikacamatain dan gigi musti dikawatin Tapi kesya terlihat cantik J. Walaupun begitu bukan berarti wajah Luna berbanding 180 derjat juga dengan Kesya. Luna mempunyai wajah yang sangat imut dengan mata yang bulat dan hidung mancung ditambah bibir kecil yang selalu merekah merah tidak ada tanda-tanda perbaikan diwajahnya #kesya tersinggung -_-
***
“Ya mana aku tau, kemaren kan waktu kak Dik ngomong aku lagi dengerin irphone” sesal Kesya dengan kelakuannya kemarin “Dasar....!!! sekarang gimana dong??” tanya Luna yang tampak sangat khawatir “Emang kakak gak senang apa?” Aduh pliese deh Key..!! yang Kakak bingungin sekarang itu Papa” hallo?? Papa..?? sosok galak yang suka membludak, besak tegap dan buncit tapi tetep so sweet J Luna masih berusia 22 tahun dan masih menjadi Mahasiswa semester akhir disebuah Universitas Negeri kota ini (Banda Aceh)  “Pasti Papa juga bakalan heran 7 keliling” “Pusing kali 7 keliling” sergah Luna gak setuju “Ya whatever lah, kenapa tiba-tiba kak Dik ngelamar Kakak, pasti Papa bakal mikir kalau Kakak ada apa-apanya” “maksud kamu??” “Ya hamil misalnya” “ihhh emang kamu mikir gitu?? Ini masalah komitmen tau!!! gak ada salahnya kan nikah muda? Soal rezeki semua udah di atur” bantah Luna kesal, Kesya ada benarnya juga, Papa pasti akan berfikir tentang kemungkinan yang paling buruk telah terjadi, makanya Luna minta buru-buru dinikahin.
***
“Kalau aku gak siap, buat apa aku ngelamar kamu?” tanya Dhika balik saat  Luna menanyakan kesiapan Dika untuk menikahinya “Ya maksud aku emang kamu siap dihujani sejuta pertanyaan dari Papa? Aku takut Papa gak bakal setuju soalnyakan kerja kamu belom jelas gitu” tanya Luna berterus terang, Dika memang lulusan Fakultas Ekonomi dan mengambil jurusan Management, jurusan yang dimimpikan Kesya sejak dulu, meskipun begitu sampai sekarang Dika belum mendapatkan pekerjaan yang sesuai dengan ijazahnya, padahal ia sudah melayangkan lamaran kerja ke berbagai Perusahaan negri maaupun swasta tapi belum ada satupun yang meresponnya jadilah sekarang untuk bertahan hidup (lebay dikit) Dhika buka warnet di sebelah rumahnya uang dari hasil usahanya inilah yang menjadi modal Dika untuk menikahi Luna. “Ya aku tau, tapi usaha warnet aku udah cukup maju kok” “Kak Dik..... Rizal, Rahmat, sama Pahlepi ngutang dulu katanya yaa” teriak Kesya dari depan sana, Luna manyun gak karuan sedang Dika Cuma bisa garuk-garuk kepala sambil cengengesan.
***
Bryan sudah 15 menit lebih berdiri di samping skuternya di pelantaran parkir sepulang sekolah, yang ditunggu belum ada tanda-tanda kemunculan sejurus matanya terfokus pada layar ponsel, namun tiba-tiba “Tadaaa...!” Kesya sudah berdiri dengan sepuluh jarinya terbuka lebar dan terpampang disampig wajahnya “Lagi main cilukba ya?” tanya Bryan heran, tanpa ada kaget-kagetnya “Iiihh aku lagi ngagetin kamu tau -_-“ jawab Kesya kesal setelah usahanya tidak berhasil “Yaaah ulang-ulang deh ulang” bujuk Bryan seolah berbiara pada anak Tk yang sedang ngambek “Ah males..., eh Mon” Mon panggilan aneh yang disematkan Kesya untuk Bryan “Kamu pulang duluan ya, aku musti latihan buat acara minggu depan” “Emang minggu depan ada acara apaan?” “Sanggar seni di sekolah kita itu terpilih buat ngisi acara penyambutan, apa ya aku lupa pokoknya acara bergengsi gitu deh” jelas Kesya penuh semangat dan bangganya “Aku boleh nonton gak?” tanya Bryan antusias “Enggak, ini acara resmi gak ada anak ingusan yang yang di undang” Kesya memang paling ceplas ceplos gak peduli efek apa yang akan bereaksi pada orang yang kerap menjadi korban kepolosannya itu , Bryan pun menyerah dan bersiap untuk menghilang (pulang maksudnya)
***
Dika menghela nafas panjang sambil merapikan kerah kemeja kotak-kotak yang dikenakannya hampir setengah jam ia mematut diri di depan cermin dari dandanannya Dika akan menghadiri acara bergensi meski sebenarnya tidak lebih bergengsi dari acara yang sedang dihadiri Kesya, tapi bagi Dika acara hari ini adalah penentuan kelanjutan hidupnya untuk masa depan, Dika sudah berjanji pada Luna hari ini ia akan menemui Orang tua Luna dan akan mengutarakan maksud kedatangannya yang telah mengganjal pikirannya selama 2 minggu terakhir, dengan bermodalkan tampang pas-pasan eh(klasih kalau kata Luna) pengusaha warnet yang kebanyakan pelanggannya ngutang ini sudah membulatkan tekad, Dika melangkah gagah menuju rumah Luna. Tapi di tengah perjalanan....
“Hallo... Haloo kak Dik ... Hallo” Dika tidak bisa mendengar suara Kesya dari seberang, terlalu berisik terlebih lagi Dika sedang mengendarai motor, akhirnya dengan sedikit perjuangan setelah berhasil menyalakan lampu sein Dika menepi
“Hallo ada apaan Key?” “Kak Dik tolong jemput aku ya ...pliese” “Hah?? Jemput? Tapi kakak lagi buru-buru mau kerumah kamu ni” “Kebetulan dong, sekalian aja, aku mau pulang  jemput aku dulu” rengek Kesya penuh harap, pertunjukan sanggar seni di acara pembukaan acara itu sudah selesai hampir setengah jam yang lalu tapi karena tidak ada yang menjemputnya terpaksa lah Kesya harus merepotkan Mahardika calon Kakak iparnya yang sudah sangat sering di repotkannya itu “Tapi kakak lagi buru-buru Key” “Kakak gak mau kan kalau besok ternyata Kesya udah gak bisa lagi liat Kak Dik bersanding sama Kak LunaL” hampir setelah mengucapkan kata-katanya tersebut Kesya akan berhambur untuk tertawa geli tapi akhirnya jawaban dari Dika menahannya untuk tertawa”Aiiihs, jangan kemana-mana, smsin alamatnya sekarang!!!” tut tut tut... telvon dimatikan Dika sudah memutar balik arah tujuannya.
***
Luna sejak tadi tampak gelisah, sambil sesekali menyibak gorden yang menggantung di jendela kamarnya, setiap hampir dua menit sekali ia berlari keruang tengah untuk melihat Papa, padahal moment seperti ini sudah sangat lama ditunggu Luna, Papa,Mama yang sedang menonton tv dan ada Dika diantaranya yang sedang berbincang sejurus tujuan kedatangannya hari ini. Dika memang sudah tidak asing lagi di rumah ini, sejak tamat Sma Luna sering diantar jemput Dika ke rumah malah belakangan ini Dika rutin main kerumah dan berbincang-bincang dengan Mama, hanya saja Dika belum pernah berhasil menjinakkan Papa “Kenapa Dika gak datang-datang juga sih?”keluh Luna tampak kesal sambil tak henti-hentinya melihat jam besar yang menempel di dinding, kini jarum jam telah menunjukkan pukul 17.30, langit sore yang sudah mulai gelap pun menintikkan butir-butir bening yang menyentuh lembut ujung-ujung daun hijau yang sudah menunggu lama untuk disentuh lembut rintikan hujan, awan hitam yang sedari tadi menggantung di langit sudah tidak kuat lagi menahannya begitu pula Luna ia sudah lela menunggu, Dika urung datang sepanjang sisa sore itu Luna meringkuk di balik selimut tebalnya sambil menangis tersedu penuh kesal dan sesal.
***
“Assalamualaikum.....Ma...Mama” Kesya basah kuyup dengan make up yang berlepotan disapu air hujan dalam perjalanan pulang  wajah manisnya kini berubah mengerikan. Magrib sudah berlalu sejak setengah jam lalu, langit sudah berubah hitam pekat ditambah hujan yang belum sepenuhnya reda
“Huaaaaaaaaa.......” “Aaaaaaa...........Kenapa sih ma?”  mendapati Mama yang kaget Kesya pun tak kalah kaget dengan teriakan Mamanya  “I,,itu siapa?” tunjuk Mama pada seseorang yang yang berdiri di belakang Kesya “Ini Kak Dika Ma..” “Ma,,,malam Tante J” sapa Dika ceria meski terbata karena kedinginan. “Ya ampunnn,,, Tante sampe gak bisa ngenalin” setelah mempersilahkan Dika masuk dan memberikan sepotong handuk ditambah teh hangat untuk menghangatkan badannya Kesya berlari menuju kamar Luna “Kakaaak...!!! cepetan kedepan”ajak Kesya, sambil menarik selimut yang menutupi seluruh tubuh milik Luna, mendapati Kesya berkoar-koar padanya ia hanya berdelik malas dengan mata sembab “Buat apaan hah?” “Looh kak??? Kakak nangis sih? Kak Dik didepan tu cepetan dia mau ngelamar Kakak sekarang” “Udah telat Key” sepotong kata menyerah itu tidak sedikit pun menyurutkan semangat Kesya untuk terus meneriaki Kakaknya agar sadar dengan tindakannya saat ini “Telat?? Gak ada kata telat buat Kak Dik, dia terlalu baik hanya untuk masalah telat.. cepet.....!!!” tanpa peduli Kesya menarik Luna menuju ruang depan disana sudah ada Papa,Mama dan Dika yang masih tetap ceria dan penuh semangat  meski dandanannya tidak sekeren tadi “Om,,, saya sudah siap mau ngelamar Luna” ungkap Dika mantap, Papa tanpak mengerutkan dahi tapi kembali berubah normal untuk waktu sesaat ,hanya sedikit shock dengan apa yang barusan didengar  sungguh kata-kata yang memang sudah di ketahui akan keluar dari mulut seseorang yang mencintai anaknya tapi tidak pernah menyangka akan secepat ini ada yang berani untuk mengucapkannya tepat di depannya  “Bagaimana saya bisa yakin dengan sebuah kata-kata siap yang tidak ada bukti ini?” tanya Papa, hening suasana berubah horor, teringat kapan terakhir Dika pernah mengalami hal semacam ini sedetik itu ingatan Dika berputar saat di ruang sidang dan dejavu beginilah ketegangan yang melanda hati dimana ia di tuntut untuk mempertanggung jawabkan sebuah hasil dengan apa yang telah diperjuangkannya, sedetik berlalu dan Dika seperti telah mengumpulkan sisa-sisa kekuatan hingga ia berani berada disini saat ini, telah siap dengan segala kemungkinan jawaban yang akan ia dapat setelah setidaknya ia mencoba meyakinkan dengan apa yang selama ini ia yakini   “Saya memang gak punya bukti yang bisa saya berikan sekarang Om,, tapi saya Mahardika yang benar-benar mencintai putri Om dengan sepenuh hati, dan saya berjanji akan membahagiakan Luna dengan usaha saya sendiri, mengenai pekerjaan saya memang tidak semapan orang lain saya hanya mempunyai usaha warnet dengan jerih payah saya sendiri dan gaji pekerjaan tetap saya sebagai staf auditing di sebuah Perusahaan swasta” semua tercengang kecuali Papa seorang diri “Saya punya satu syarat yang mungkin akan menghalangi usaha kamu malam ini” seakan tidak rela melepas Putrinya Papa semakin mempertegang suasana malam ini “Saya yakin selama saya mempunyai cinta ini untuk Luna saya mampu melewati semua persyaratan dari Om” strike seperti sedang menyaksikn pertandingan hebat keduaanya punya skill yang sama-sama kuat. “Syarat ini saya tujukan untuk Luna” deg... seakan pertandingan ini akan berakhir kalah telak, Papa dengan seenaknya mengganti sasaran, Kesya di ujung sudut sana sudah ingin bersuara tapi akhirnya ditahan Luna, ia maju mendekati Papa yang masih berhadapan dengan Dika “Lu,, Luna siap apa aja pa” jawab Luna lugas, Papa beralih menatap Luna kini ada sorot haru memenuhi bola mata milik Papa, seorang kepala keluarga yang telah membesarkan anaknya hingga akhirnya datang seorang pemuda untuk melamarnya “Luna... selesaikan dulu S1 mu, baru Papa izinkan kalian menikah” sontak semua terkejut mendengar persyaratan Papa, Luna yang sedari tadi menangis pun akhirnya berhambur memeluk Papa penuh rasa terimakasih, Dika sedetik kemudian langsung mengucap syukur tak henti-hentinya dengan senyum merekah di wajahnya senyum tanda lega. Kesya tersenyum haru sambil menyeka ujung matanya dengan gorden jendela Mama sempat mempelototi tingkahnya tapi akhirnya ikut bersikap demikian karena terharu dengan kejadian yang baru saja terlewati.
***
“Kenapa kamu bohongin Papa??’ tanya Luna saat mengantarkan Dika ke depan teras “Aku gak bohong kok” “Terus apa maksud kamu ngomong kalau kamu itu staf auditing segalak??” “Itu emang bener Lun, kamu tau? Tadi aku telat karena aku jemput Kesya dan disana aku ketemu sama Pak Bramanto pemilik perusahaan yang ternyata lagi ngadain acara pembukaan kantor cabang di Kota ini dan kamu tau? Lamaran 2 minggu terakhir yang aku kirim ternyata di terima di situ J” jelas Dika mengusir ragu yang sedari tadi memang tidak lepas dari wajah Luna tapi sekarang Luna lega dengan apa yang telah didengarnya J
***
“Mooon Kak Dik sama Kak Luna jadi nikah” Kesya berseru riang dari ujung televon “Oyaa?? Waah selamat tapi Key kita kapan??” tut tut tut tut telfon dimatikan
Tamat


ISTIMEWANYA JADI CEWEK
Nama gue Putrian Dera Lestari, Mahasiswa di Universitas negeri kota  ini, iiiih bangga banget rasanya ngenalin diri sebagai Mahasiswa, gue disini gak sendiri, maksud gue di rumah sempit ini, kita ngekost bertiga,, nah ini dia sahabat gue yang dari SMA, hobbynya ngekor mulu(jangan sampek ketauan ya)
ini Sisil, Silsila Dewita Sari anak bungsu dari keluarga Pak Su,,, “Der, gak usah ngenalin bokap gue, biar mereka cari tau sendiri deh”  Sisil punya kakak cowok yang tampangnya hmmm Kereeen banget, jadi ingat masa-masa SMA dulu, apa-apa ke rumah Sisil, alasan nya ngerjain tugas taunya mau ngelirik kakaknya J tapi sayang gara-gara ke kererannya itu sekarang dia menjabat sebagai ketua genk Playboy, nyadar diri banget sih???
Dan ini satu lagi sahabat gue,  Vinna Denisa yang sumpah cah ayu banget , gue sendiri bingung kenapa gue gak bisa sefeminin dia sih??? Okeh mungkin nyokap emang lebih senang dengan keadaan gue yang sekarang ini, secara kita itu 4 bersaudara dan itu cewek semua sejak masih SD aja gue sering di kiraain cowok, karena ulah mama tuh yang selalu makein gue celana, mana Rambut gue gak pernah panjang lagi, lengkap lah sudah
                                                                        ****
First Weekend On September Mont, bukannya nyantai gue malah di boyong ke lapangan deket Kampus nih sama 2 sahabat gue, alesannya di sini banyak cowok ganteng, bukannya itu gak ngaruh yah?? Mereka juga gak bakalan tertarik lah sama gue, bukannya cowok itu sukanya sama cewek yang kayak Vinna?? Uuh seumur hidup cowok yang paling deket sama gue itu Cuma ada 2 orang, pertama Papa dan kedua Ceo sahabat kecil gue yang entah berada dimana sekarang?? Oke ini bukan cerita tentang gue yang lagi nyari temen kecil gue, lagian gue juga udah lupa kok tampangnya gimana, jadi lupain aja deh.
“Der,, vin sini” ajak Sisil, dia lagi gabung sama anak basket, spontan mereka juga ngeliatin kita, Ralat Vinna maksudnya, yaiyalah Vinna kan Cantik, feminin pokoknya cewek banget deh, sedangkan gue?? Mungkin kalo dari kejauhan 10 meter baru gue itu bakal keliatan mirip sama merekaL
(Binti cowok banget) “Hey, kenalin sahabat gue nih” kata Sisil, kayak lagi promosi aja
Mereka cepet-cepet berebut salaman sama Vinna sedang gue di cuekin gitu aja
“Farhan, anak Fak ekonomi yah??” tiba-tiba ada juga yang ngeh sama kehadiran gue di sini, saat ngeliat wajahnya gue sempat mematung untuk beberapa detik, bukan karena cowoknya kegantengan, tapi gue lagi mikir keknya gue pernah liat ini cowok, tapi dimana?? Gue bener-bener lupa,
“Hmmm, Dera, iya kok loe tau??” heran juga, tau dari mana dia gue di Fak ekonomi??
“Sama, dan kalo gak salah loe yang kemaren nyasar ke barisan cowok bukan??” OMG jadi bener dia ini Senior belagu yang kemaren bentak-bentak gue?? Gara-gara gue salah masuk barisan lagian yang nyuruh gue berdiri di situ kan juga dia, tapi sekarang kenapa tampangnya jadi lebih cool yah??
“Bukan salah masuk barisan, tapi di paksa masuk :p” protes gue, gak terima dong di bilang nyasar??
                                                                        ****
“Lesu amet loe Der” tanya Vinna saat gue gabung di kantin “ Tau nih, lagi ada masalah??” timpal Sisil membuat gue bener-bener pengen numpahin semua ke-Bete-an gue  “Hahah bukan masalah besar kali :p” respon Vinna Setelah gue selesai cerita “Loe tenang aja, soal gaun itu gampang, tapi yang lagi gue pikirin itu loe bisa gak jadi Cinderella??” Iya mana ada Cinderella Tomboy kayak gue, lagian acara penyambutan masasiswa baru kok macem-macem aja sih??  harus pakek gaun ala Cinderella lah ribet amet “Okeh gue cewek kok, dan loe Vin gue serahin semuanya sama loe” sembur gue akhirnya, sedang mereka berdua sudah terkikik geli , lucu yah kalo gue jadi salah satu dari kalian??? gue kan juga CEWEK !!!!
“Eh,, Yogi, Yogi” tunjuk Sisil merubah topik pembicaraan,
“Dia sama siapa tuh??” tanya Vina heran melihat Yogi jalan gak sendirian,
“Paling juga cewek barunya, Sabar ya Der,  lagian loe sih masak naksir sama dia, udah tau dia playboy” Yogi itu cowok yang hampir 2 setengah tahun gue taksir selama di SMA dulu dan gak tau setiap liat Yogi gue selalu pengen nyanyiin lagu Rosa yang satu ini nih
Ku menunggu, ku menunggu kau putus dengan kekasihmu
Tak akan ku gannggu kau dengan kekasihmu ku kan selalu di sini untuk menunggu mu
Tapi mau sampe kapan???
“Hey Sil, hai Vin , Dera..” Tiba-tiba Farhan udah berdiri di depan kita, sok ramah gitu lagi??
“Eh kak Farhan, gabung dong” Sahut Sisil, sambil mempersilahkannya duduk
“Iya, apa kabar Der?” tanyanya mengarah ke gue, hah.... dia nanyain gue nih?? heran aja biasanya di antara kita bertiga yang paling gak di anggap ya gue, (perasa banget)
“Hmm, baik kok”
“Baik apanya dia lagi bingung ni kak, masak acara penyambutan Mahasiswa baru Fakultas kalian musti pakek gaun??” Tancap Sisil gak pakek rem,
“Kok malah bingung? Dera, dera,,, anak-anak yang lain pada seneng, katanya ini bukan bagian acara ospek, tapi lebih mirip pesta dansa, lah loe kok aneh sendiri??” ledek Farhan
“Ahh bodo, gue gak ikut aja deh”
“Eh, gak bisa gitu dong, loe bakal di hukum kalo gak ikut” jiaaah ada hukuman segalak??
“Iya, malah akibatnya bisa lebih fatal, loe bisa-bisa gak bisa ikut sidang entar” ancam Farhan seraya memasang ekspresi seolah itu adalah hal yang paling ditakutkan oleh semua orang
“Kok gue gak pernah denger ya? ada syarat begituan” Vinna ikutan heran dengan apa yang barusan disampaikan Farhan, bukannya menjelaskan Farhan malah beringsut mendekati Vinna sambil berbisik sesuatu gue asli penasaran banget, Vinna seketika terbelalak dan langsung bungkam hingga Farhan berlalu dan sampai saat kita sudah pulang ke Kost pun Vinna masih gak mau buka mulut, padahal gue udah pakek segala cara buat buka itu mulut si Vinna sampek-sampek ngerencanain buka pakek obeng loh serius!!! (gue bohong) bisa di culik polisi gue kalo berani buka pakek obeng segala,
“Udah deh Der, biarin aja dulu Vinna bungkam. Ini juga gara-gara loe kan” wiiih bukannya ngebantu Sisil malah ikut-ikutan, akhirnya gue milih ngeceng di dapur sambil nyoba-nyoba resep baru untung gue pinter masak, kalo gak bisa mati masuk angin kita tiap hari dimasakin Mie instan sama Sisil, kalau Vinna sih sama sekali gak bisa masak, ke dapur aja jarang untung loe cantik Vin nah gue?? luarnya boleh tomboy tapi dalemnya gue cewek banget lah, nyokap gue asli pinter masak dan buka jasa catering buat acara-acara besar nah di situlah gue yang emang udah hobby main di dapur ketimbang ngikut kakak-kakak gue buat ke Mall lah, salon lah, segala macam pokoknya gue lebih betah di dapur nemenin nyokap.
“Awas ya kalo makan makanan gue entar” ancam gue sembari meninggalkan mereka yang sepertinya tambah kompak ngasingin gue seorang diri -_-
“Ihhh..., gak bakalan, paling dihabisin semuaaa” teriak Sisil dari ruang tengah menembus dinding dapur, gue cuma bisa melet-melet lagian mana mungkin gue serius biarin mereka gak makan?
***
“Ihhh jangan menor-menor amet dong, gue maluuu” entah untuk keberapa kalinya gue ngerusak karya seni Vinna yang di lukis di wajah gue, Sisil untuk kesekian kalinya juga kewalahan megangin tangan gue yang gak pernah diam, “Aduuuh Der plise deh, gue juga gak bakalan mungkin dandanin loe kayak ondel-ondel kok tenang aja deh” sahut Vinna kesal, “Tau ni, mana ada Cinderella yang Cuma pake bedak tabur doang ke pesta hah?? gak ada tau” perjelas Sisil sembari kembali megangin tangan gue yang kelayapan kemana-mana “ Aduh tapi, beneran deh gue gak bakalan PD kalau dandanan gue kayak begini” OMG sumpah, ini kali pertama gue di paksa pake segala peralatan make up lengkap ala Vinna bahkan saat acara resepsi pernikahan Kakak sulung gue aja, gue Cuma pakek kaos besar plush jins dan asli gue gak di izinin keluar sama sekali saat itu.
Tadaaaaa
“Waaah loe cantik banget Der” pekik Sesil saat gue keluar dari kamar, dan gue udah pake Gaun panjang sampek ngepel lantai, gue masih gak yakin sama penampilan gue, “Ya dong kan gue yang dandanin” Vinna dengan bangga muncul dari belakang gue sembari menerbang-nerbangkan ekor gaun yang tadi gak sengaja gue injak itu. “Kalian gak lagi becanda kan? gue gak nyaman banget ni -_-“ tanya gue masih berharap bisa kabur ke kamar buat ganti baju. “Udah deh, bikin hari ini jadi hari special buat loe, sehari aja oke!!!” Sisil berkata mantap sembari menepuk bahu gue, terlihat jelas mereka tulus ingin merubah gue, meski cuma sehari ini aja, “Dan buat Yogi ngelirik loe J” timpal Vinna menyemangati, tapi gue yakin secantik apapun gue hari ini , pasti cewek gandengan Yogi  jauh lebih menarik dibanding gue L akhirnya dengan bantuan kedua sobat gue ini, kita berangkat menuju Kampus, acara penyambutan Mahasiswaa Fakultas Ekonomi dengan tema aneh ini sengaja di buat di Kampus untuk mempermudah semua mahasiswa untuk datang, Sisil dan Vinna tentu gak boleh masuk soalnya mereka bukan mahasiswa Fakultas Ekonomi, jadinya mereka Cuma nganterin gue sampe gerbang Aula Kampus “Semangat Der, eh putri Dera ku yang cantik :p” tutur Sisil dengan senyum di kulum, Vinna masih memegangi ekor gaun ku yang entah dimana didapatkannya gue cuma terima beres doang. Setelah menarik nafas dalam-dalam akhirnya gue melangkah masuk, acara masih akan dimulai setengah jam lagi, gue sengaja datang cepat biar bisa nemuin posisi tepat biar gak jadi pusat perhatian juga, baru beberapa langkah masuk ternyata ruang Aula sudah hampir penuh dengan mahasiswa/i yang hadir, memang benar acara ini lebih mirip pesta dansa di bandingin acara Kampus seperti biasanya. Tampak dari jauh beberapa mata memperhatikan kehadiran gue, dengan terseok-seok gue narik ujung Gaun gue yang masih ketinggalan 2 meter di belakang, sepasang mata dari kejauhan memandang tabjub ke arah gue, tapi gue terlalu sibuk buat ngurus gaun dengan ekor panjang ini sampek-sampek gue gak liat ada orang yang  lagi membawa nampan dengan gelas bersusun diatasnya, tampa bisa dicegah Braaak. . ., beberapa gelas jatuh dengan air tumpah keseluruh badan gue, Gaun, dandanan gue sempurna ancur berantakan dengan kaget bercampur segala rasa aneh yang mulai menyergap otak, gue sempat ngeliat orang yang berdiri di dekat gue Yogi ia Yogi, dia ngeliatin gue dengan tatapan jengah, ilfil dan (AAAAAAA) memalukan pokoknya, tanpa bisa melihat ke arah manapun gue mencoba bangkit buat kabur dari acara ini, gue udah terlalu malu buat hadir di sini, gak ada lagi harapan untuk menjadi Cinderella di Pesta ini, gak ada lagi harapan membuat Yogi sedikit aja ngelirik atau tau kalau gue ini ada L. Saat gue dengan penuh perjuangan bangkit tiba-tiba sebuah tangan mengulur lembut, menyingkirkan serpihan-serpihan gelas yang tadi sempat bertebaran di lantai yang hampir mengenai gue, dengan cekatan ia langsung menarik gue menjauh dari kerumunan orang yang kebanyakan hanya penasaarn dengan keributan tersebut tanpa berniat menolong sama sekali.
***
Tanpa bisa dicegah gue menangis sejadi-jadinya di bangku taman, menyesali dengan apa yang baru saja terjadi, gue bener-bener malu bahkan gue gak berani buat mengangkat kepala melihat siapa orang yang sudah berbaik hati menolong gue pergi dari tempat menyedihkan itu
”Loe cantik banget hari ini Der” di sela-sela tangis gue, orang tersebut masih bisa mengagumi sisa-sisa dandanan mahakarya Vinna yang mungkin berhasil menyulap mata orang untuk beberapa detik tadi, “Gue tau gue ini menyedihkan sekarang, loe gak usah nyemangatin gue” dengan kesal gue melontarkan kata-kata itu pada orang yang sudah berbaik hati tersebut, lebih baik berkata jujur dari pada harus menyembunyikan kebenaran- begitu pikir gue
“Gue serius Der, tapi meskipun loe gak dandan begini pun bagi gue setiap hari loe udah cantik” Farhan senior yang baru beberapa hari ini hadir dalam kehidupan gue ternyata dia yang nyelamatin gue dari bencana di ruang aula, dan tiba-tiba datang dengan sisi lain yang belum pernah gue kenal “Kenapa harus loe?” tanya gue masih belum percaya, orang yang seharusnya gue harapkan bahkan enggak pernah mandang gue sebagai cewek, kenapa tiba-tiba malah Farhan yang ada saat-saat seperti ini?
 ***
“Hey, kenalin sahabat gue nih” saat semua berebut buat bisa kenalan sama cewek cantik itu, Farhan malah merasa tertarik dengan cewek unik di sebelahnya itu, cewek yang tampak tidak asing, dan setelah diingat-ingat ternyata benar cewek itu adalah adek letingnya yang kemarin sempat menarik perhatiannya karena tingkah lucunya :D  
“Eh,, Yogi, Yogi” sayup-sayup Farhan mendengar 3 gadis yang sedang duduk di kantin itu bercerita, tanpa bisa di cegah Farhan tertarik untuk terus mendengar dari jarak yang cukup aman untuk diketahui oleh ketiganya tapi saat sebuah nama itu disebut ada rasa ngilu yang tiba-tiba menyergap hatinya
“Dia sama siapa tuh??” wajah lucu yang sedari tadi Farhan perhatikan perlahan berubah murung seiring memalingkan pandangannya dari dua orang yang sedang berjalan sambil bergandeng tangan itu.
“Paling juga cewek barunya, Sabar ya Der,  lagian loe sih masak naksir sama dia, udah tau dia playboy” deg,, saat ini Farhan benar-benar bingung perasaan apa ini sebenarnya? Meski belum bisa terjelaskan namun hatinya benar-benar lebih jelas terasa perih sampai akhirnya ia memberanikan diri ikut bergabung, hanya untuk memastikan Dera tidak kenapa-kenapa
Tanpa bisa melepas pandangan pada Dera, Farhan langsung menanyakan kabar gadis itu. Dan ikut berbincang-bincang dengan Sisil dan Vinna sempat juga membuat Dera penasaran setengah mati saat Farhat sengaja berbisik sesuatu yang tidak penting pada Vinna untuk mengembalikan keceriaannya. Setiap detik setelah kejadian itu Farhan benar-benar tidak bisa menyingkirkan sosok Dera dalam ingatannya hanya gadis itu yang selalu muncul setiap ia mencoba menutup mata, sampai pada saat acara penyambutan Mahasiswa baru itu berlangsung, Farhan yang menjabat sebagai ketua panitia acara, di tengah kesibukannya mengurus agar acara berlangsung sukses, ia malah berubah membeku saat seorang gadis memasuki ruangan itu, dari kejauhan Farhan dapat melihat perbedaan yang sangat mencolok dari gadis yang biasa tampil apa adanya itu, tapi hari ini ia membuat semua orang, termasuk Yogi sadar akan kehadirannya dan itu membuat Farhan merasa tidak nyaman, merasa takut, tapi selang beberapa detik kemudian semua kekacauan itu terjadi hingga tidak dapat mencegah Farhan untuk segera membawa pergi gadisnya itu.
***
“Gue juga gak tau apa alasan gue, rasa ini datang tanpa bisa gue cegah, dan kenapa harus loe?? Mungkin karena loe adalah seorang CEWEK istimewa yang pernah gue kenal” tanpa bisa berkata gue benar-benar terkejut dengan apa yang baru aja gue dengar, tapi baru kali ini gue merasa menjadi bagian yang utuh dari seorang cewek, bisa di cintai oleh seorang cowok J
14 nov 2015 16.30

Saturday, 31 October 2015


KETIKA CINTA HARUS MEMILIH
BY : YAYANG SETIANI


“Yuna” sapa Mia pada sahabatnya yang baru sampai itu, bukannya meletakkan tas dia malah menopang dagu, tak sedikitpun mempedulikan Mia yang terus memanggilnya untuk ikut mengerjakan pr
“Heyy,,, pagi-pagi udah bengong mana senyum sendiri lagi” Dira yang baru sampai langsung menarik Yuna untuk  mengerjakan pr Fisika, meski tidak ada perlawanan tapi Yuna sedikit kesal juga kalau sudah dipaksa begini secara dia ini paling males sama yang namanya Fisika, mana pelajarannya rumit ditambah lagi gurunya yang killer lengkap lah sudah, tapi ke tiga sahabat ini bisa saling melengkapi karena Mia memang jago dalam semua pelajaran kecuali ya pelajaran IPS, Dira jagonya Fashion jadi kalau diantara mereka ada yang mau kondangan ya Dira iniyang dandanin, kalau Yuna jagonya?? Nyanyi tapi kalau di suruh nyanyi di depan cowok bisa-bisa dia pinsang habis groginya itu huuh selangit
“Tau nih dari tadi keknya seneng amet habis ketemu cowok ganteng yah??” tebak Mia asal-asalan
“Iya kok kamu bisa tau sih??”
“Hah??”
“Udah deh cowok ganteng itu gak penting yang penting sekarang prnya,,,” potong Dira sembari membuka buku
****
“Jadi cowok ganteng itu anak kelas 2??”
“Iya,,, ganteeeng” jawab Yuna bersemangat sambil membayangkan wajah cowok yang sudah membuat dia seharian ini tak henti-hentinya tersenyum riang
“Namanya siapa??” tiba-tiba Dira datang dengan sebotol teh di tangannya sepertinya dia baru dari kantin jajannya Cuma teh dingin doang, padahal udah langsing tapi masih aja diet
“Aku gak tau,,,” jawab Yuna manyun
“Yaaaah” Mia dan Dira serentak ber yaaah kecewa
****
Hari ini hari sabtu jadi pelajaran pertama Penjaskes jadi seisi kelas pagi ini tidak perlu repot-repot mikirin pr
“Iya,,, entar kita lewat di depan kelasnya yah,,?” pinta Yuna , gak biasanya ini anak bisa semangat begini kalau urusan cowok
“Eh tapi aku mau ke toilet dulu nih, kalian duluan aja” Dira lagi ada tamu rutin bulanan jadi selama itu dia akan betah bolak-balik toilet
“Yaudah deh” akhirnya Yuna dan Mia ke lapangan tapi muter lewat kelas 2 agak jauh sih tapi gak masalah
“Kelas 2 apa sih” tanya Mia sembari celingukan mencari kelas cowok yang sudah membuat sahabatnya Sarap itu
“Hmm,,, iya ya aku juga  gak tau,”
“Yaah yuna gimana sih,”
Sementara Dira,
“Duuh lama banget sih keluarnya??” protes dila, saat menunggu di luar
“Mau masuk ke toilet yah, disini aja lagi sepi kok” tawar seorang cowok yang beeuh Ganteng, keren, wokeh banget deh pokoknya
“Tapi itu kan toilet cowok??” dira masih sangsi kalau harus masuk toilet cowok
“Tenang aja, aku tungguin kok”
Uuh jarang banget ada cowok yang baik banget kek begini, akhirnya Dira masuk dan ternyata memang benar cowok itu mau nungguin dia sampe selesai
“Hmm makasih ya” ungkap Dira, cowok itu Cuma mengangguk pelan setelah itu dia berlalu
“Gimana?? Udah ketemu??” tanya dira saat baru berkumpul di dekat lapangan, meski keduanya gak menjawab tapi di wajah mereka khususnya Yuna terlihat jelas gak ada kemajuan
“Udah gak gak usah sedih gitu,,” sambung dira penuh semangat,
****
Pagi ini malah Dira yang senyam-senyum gak jelas , ketularan yuna nih kayaknya
“Heh,,, jadi sekarang Cuma aku aja nih yang gak punya gebetan??” sindir Mia sambil melirik ke arah Dira yang tadi pagi habis dapat salam dari cowok yang katanya pernah jadi pahlawannya
“Apaan sih?” jawab Dira tersipu, dengan wajah yang merona kayak kepiting panggang(emg kepiting panggang warna’a pink yah?? Auk ah)
“Waaaah kok bisa samaan begini yah dir??” sambung yuna yang tiba-tiba muncul dari bawah kolong meja
“Ihh yun loe ngapain disitu??”
“Heheh pulpen gue nyosor nih” jawabnya asal
“Gue juga gk tw, yang jelas dia udah bikin hati gue”
“Berakar-akar” potong mia yang membuat Yuna dan Dira ngernyit bete’
Saat Istirahat Yuna masih juga nyolot pengen lewat di depan kelas cowok pujaannya akhirnya mereka nurut dan seperti kemaren lagi si cowok itu gak ada, huuu emg blom rezekinya yuna kali yah,
“Yaudah kita kekantin aja yuk” ajak mia, dari tampangnya dia udah gak sabar pengen ngelahap , seperti biasanya Dira Cuma mesen teh, dan setelah itu dia Cuma bakalan nemenin sobatnya berdua yang kalau lagi makan gak pantang nyerah alias(RAKUS)
“Dir, saran aku mending kamu bayarin makanan kita aja deh dari pada harus nontonin kita makan” celetuk Mia tak karuan
“Ihh, males banget mending aku ke taman aja deh” jawabnya sembari melangkah
“Val,,, ambil bolanya.. tuh cewek budek apa??” hiruk pikuk suasana israhat memang sudah menjadi tontonan keseharian sekolah ini, dan saat sebuah bola meluncur ke arah kaki Dira, ia hanya menyingkir dan tidak mempedulikan beberapa anak-anak yang main manggil dia buat minta bantuan
“Sorry” sebuah suara yang gak asing menyapa Dira, dan reflek Dira menoleh dan mendapati cowok itu, yah cowok yang pernah ditemuinya di toilet tempo hari
“Ohh,, kamu” Dira tampak nervous
“Hmm,” cowok ini pun tak kalah nervousnya bak dua sejoli yang sudah tahunan tak bertemu dan sekalinya  sudah bertemu jadi canggung gitu
“Ehh Dira kan?? Kenalin aku Rival.. “
“Iya,, “
“Ntar sore bisa ketaman gak ada suatu hal yang pengen aku sampein” pinta cowok yang katanya bernama Rival itu. Dira hanya mengangguk se mbari tersenyum
****
 “Aku penasaran juga nih siapa sih cowok yang udah buat dira tergila-gila itu” ungkap Yuna pada Mia saat sedang pulang sekolah
“Iya nih sampe nolak ajakan kita buat hangout plush ditraktir lagi” timpal Mia dengan nada penuh curiga
Setelah beberapa saat meraka terdiam, tiba-tiba keduanya saling pandangan dan tersenyum penuh arti
****
“Srius kan kamu gak salah dengerkan?? Kalau dia mau...”
“Iya aku yakin kok, tadi katanya mau ke taman” potong mia sedikit kesal. Sambil ngejingkrak-jingkrak gak jelas Yuna dan Mia ngintipin Dira yang lagi duduk di kursi taman tapi gak ada seorangpun di sampingnya
“Soory yah tadi aku ke,,,”
“Mana??” tanya Dira heran saat kata-kata Rival putus
Tiba-tiba Rival berlutut dan setangkai mawar merah yang tadinya di sembunyikan di belakang ia keluarkan
“Apa-apaan nih?” tanya Dira gugup  mendapat perlakuan spesial dari cowok yang baru di kenalnya ini
“Dari pertama aku ketemu kamu, aku,,, udah suka sama kamu.” Jawab rival mengharap respon dari Dira
Tapi Dira tidak menjawab ia hanya tersenyum malu,

“Wiih so sweet banget sih tuh cowok..” gumam Mia sambil tersenyum-senyum
“Yun yun,, loh yuna?? Woi kamu mau kemana??” Mia baru menyadari kalau Yuna sudah berlari jauh dari tempatnya berdiri
“Yun,, kamu kenapa?? Loh kok kamu,, nangis sih??” Mia bingung melihat yuna yang tiba-tiba menangis begini
“Itu dia mia,, itu cowok yang selama ini aku ceritain..” jelas yuna sambil terisak
“Apa?? Jadi,, kalian naksir cowok yang sama??” tanya Mia heraan
****
“Kenapa?? Kok hari ini kalian lesu banget??” Tanya Dira saat mendapati sahabatnya sedang duduk termenung
“Hmm gak kok” jawab Mia sedikit canggung
“Oyah aku mau ceritain sesuatu nih” timpal Dira tanpa menyadari expresi Yuna yang sedari tadi tidak ada sedikitpun senyum
“A,,apa?” tanya Mia , mungkin kalau bisa sekarang dia lebih milih Pak Togar guru MTK itu cepet-cepet masuk biar Dira gak nerusin ceritanya,
“Aku Jadian sama Rival J” Braaaak mungkin begitu lah suara Hati Yuna
Aduh harapan Mia gak terkabul Dira berhasil juga cerita, tiba-tiba Yuna keluar tanpa berkata-berkata
“Loooh Yuna kenapa?? Temennya lagi seneng kok dia malah cemberut gitu?” protes Dira
“Hmm se.. sebenernya....”
“Apa???” jawab Dira saat mengetahui apa yang sebenarnya terjadi
****
“Yuun aku mau kok mutusin Rival, aku juga mau lupain dia demi kamu Yun.. L” ungkap Dira , Yuna heran mendengar apa yang dikatakan Dira, dia gak tau kalau sahabatnya ini mau berkorban deminya. Tapi apa dia pantas melakukan itu demi dirinya jelas-jelas Rival suka sama Dira, dan harus diakui juga Yuna gak pernah sempat ngasih tau yang mana cowok idamannya itu.
“Yuun maafin aku yun, aku bener-bener gak tau kalau...”
“Bukan salah kamu kok dir” potong Yuna
“Aku gak pernah ngasih tau siapa cowok yang aku suka’
“Tapi Yun kamu duluan yang suka dia..”
“Cinta itu emang sulit, kita gak bisa nentuin kapan dia datang dan kepada siapaa dia datang Dan terkadang Cinta itu Harus memilih” jawab Yuna sudah sedikit baik meski hatinya masih terluka, dia sadar gak semua yang kita suka bisa kita miliki, Yuna juga lega karena bukan orang lain yang memiliki Rival, tapi sahabatnya sendiri
Dua sahabat ini akhirnya berpelukan J
“Aku juga ikut dong,,” timpal Mia ikut memeluk sahabatnya
****


 *cerpen jaman-jaman Sma dulu sengaja enggak di edit biar jadi perbandingan buat kedepan, kalau hari ini kamu masih bisanya begini besok atau lusa pasti bisa jauh lebih baik dari sekarang :)
Si temen usil, lagi asik-asik buat tugas tiba-tiba ngirim foto jaman ospek dulu, jaman masih cupu-cupunya masih imut sih enggak segede sekarang :D but this is my, salam Opak 13 semoga setelah masuk bareng juga bisa keluar bareng !!!

Monday, 13 April 2015

aku lupa kapan  foto ini di ambil yang jelas ini bertempat di hutan kota banda aceh, seingat aku waktu itu kita lagi jalan-jalan dan kepikiran buat singgah ke sini havefun day lah pokoknya, :D

Saturday, 1 November 2014


YOU CHANGE MY WORLD

            Vina baru bisa bernafas lega setelah melihat barangnya tertata rapi di setiap sudut kamar barunya ini, sudh hampir 2 jam yang lalu dia sibuk membenahi barang bawaannya yang lumanyan banyak, secara mulai hari ini Vina Resmi tingggal di sini,
“huuf,,, udah jam 12 siang ni des, kita masak dulu yuk”ajak Vina pada teman barunya yang akan menjadi teman sekamarnya pula, tapi setelah di selidiki ternyata di dapur gak ada sesusatu yang bisa di olah menjadi makanan
“terpaksa nih Vin, kita harus belanja dulu”
“biar aku aja deh, kamu pasti capek kan??” akhirnya vina keluar, tapi sebenarnya dia gak tau daerah sini, asal keluar aja, yang penting gak ngerepotin temen barunya.
                                                                        ****
“Farhaaan...! kamu itu udah 18 tahun tapi masih kayak anak 8 tahun, udah berapa kali mama bilang , jangan bisanya kelayapan aja..!” Omel mama panjang lebar , gak peduli beberapa anak kos terperangah heran melihat tingkah mereka
“aduh ma, jangan teriak-teriak dong, gak enak di dengar orang” sahut Farhan anak Tunggal Ibuk  Desta pemilik kosan Cewek ini, Farhan emang jarang pulang selain males denger mamanya ngomel, dia juga hobby banget nongkrong di warkop sambil On line berjam-jam setelah pulang dari kampus, jadi gak heran kalau Vina dan beberapa teman lainnya gak kenal sama Farhan, orang nongolnya Cuma kalau udah ngantuk aja
“gak enak apanya? Pokoknya mama gak mau liat kamu lagi,,”
“mama ngusir aku?” potong Farhan shok, “ siapa bilang? Mama kan belom selesai ngomong, siapa suruh motong?”
“ooh lanjutkan ma J”
“mama gak mau liat kamu pulang telat lagi, kalau enggak mama bakal ngirim kamu ke rumah Bibi di kampung,!” ancam mama, dia yakin kalau udah pake ancaman ini Farhan bakalan nurut biar Cuma 1 minggu doang
“yaah jangan dong ma,, L”  “ yaudah kamu harus nurut kalau gitu” akhirnya Farhan menyutujui aturan mamanya dan masuk kamar.
“tadi itu anak ibuk Desta?”tanya Vina heran, sudah hampir 1 minggu di sini, dan baru tau kalau Ibu kos punya anak, dan anaknya Cowok??
“iya tapi tenang aja, dia itu gak betah di rumah” jawab Desi sambil beranjak dari tempat persembunyian mereka,
                                                                        ****
            Kebiasaan seseorang emang sulit untuk di ubah , meski ada pepatah yang mengatakan Dimana bumi berpijak, Di situ langit di junjung. Tapi bagi Vina itu sulit, kebiasaannya di kampung dulu, suka Shalat berjamaah ke Mesjid, setelah hampir seminggu absen , Akhirnya Vina  nekad juga keluar “GREEKK” pintu depan masih di kunci rapat,
“siapa loe??” Tiba-tiba seseorang mengejutkan Vina “ mau maling loe?”
 “ hah?? Aku bukan maling, aku mau kemesjid” jawabVina sembari berbalik badan dan menemukan Farhan yang sudah rapi dan siap kabur
                                                                        ****
“emang tuh cewek siapa?” Tanya Danian Sahabat Farhat yang sama-sama punya hobby males pulang ke rumah, “gak tau anak  kos juga, tapi gue baru liat” jawab Farhan, sambil berusaha mengingat wajah cewek yang di lihatnya tadi subuh
“keren juga ya? Ke mesjid subuh-subauh gitu?” ungkap Danian Takjub, yaiyalah jangankan subuh Jum’atan aja mereka jarang JANGAN TIRU ADEGAN INI..!
“ah,,, udah, yang jelas sekarang gue gak di bolehin kelayapan lagi ini” ungkap Farhan kesal
“bukannya dari dulu loe emang gak pernah di kasih izin ya? Kenapa sekarang loe kayak banci gini? Hahah” ledek Danian, menanggapi ocehan Farhan, sebenarnya apa yang di katakan Dania 100% bener , tapi Farhan juga yakin kalau mamanya gak lagi main-main sekarang(Dilema tingkat Tinggi)
                                                                        ****
“ada apaan tuh?? Sekarang gak lagi bulan Ramadhan kan?” Tanya Danian bingung plush takjub ngeliat Saf  jamaah penuh sama anak seumurannya, padahal nih mesjid yang ada dikompleks perumahan mereka, palingan Cuma di huni sama bapak dan ibu-ibu doang
“yaiyalah bukan, keliatan banget loe gak pernah puasa” sembur Farhan Pedasss,
“trus kok tumben penuh?”
 “tauk deh” jawab Farhan Acuh tak acuh, sembari terus berjalan dan celingukan ke dalam mesjid, mencari apa penyebabnya
“ayook des,,” ajak Vina buru-buru “ iya tunggu dulu,” Desi msih sibuk melpat Mukenanya sedang Vina udah menunggu di luar dan siap kabur dari kejaran banyak fansnya(udah jadi artis loe Vin?) iya semenjak 2 hari ini Vina emang rajin Shalat berjamaah ke mesjid tapi sekarang rasanya Vina harus mikir 2 kali untuk melakukan itu, soalnya Vina gak tau karena kehadirannya di situ banyak cowok yang jadi ikut-ikutan , dan Vina paling gak suka sama hal itu masak ke mesjid karena alesan lain gak mutu banget
“eh itu kan cewek yang ngekos di rumah gue” tunjuk Farhan ke arah Vina yang lagi buru-buru pulang “ mana?” tanya Danian celingukan mencari sosok yang di maksud sahabatnya itu
“ itu,, yang jalan di depan” perjelas Farhan, sebelum Vina berlalu, “Oh,, Gila cantik banget han, pantes aja anak-anak betah ke Mesjid, gue ngikut ah..” Sembur Danian  semangat, cewek kok di jadikan alesan ke mesjid?
Tiba-tiba Farhan ingat dirinya sendiri , kerjanya selama ini Cuma jadi Kunang-kunang(kuliah nangkring) kapan hidupnya bisa sukses? Melihat Vina yang begitu rajin Farhan malu sendiri
                                                                        ****
“wah tumben kamu jam segini udah pulang?” tanya mama heran melihat anaknya sudah stay di meja makan malam ini, “ mama gimana sih? Aturanya kan emang begitu?” ungkap Farhan sok bijak “iya ,,! J” jawab  mama, keliatan sekali beliau senang dengan sikap Farhan malam ini “permisi buk,, Saya boleh permisi keluar sebentar gak buk?” pinta Vina memelas, ada kegelisahan yang tergambar di wajah cantiknya
“malam-malam gini, mau kemana?” tanya ibu Desta, sebenarnya ini memang pertanyaan yang wajib di lontarkan kesetiap anak  kos yang minta izin di jam-jam seperti saat ini
“saya mau beli obat buat teman sekamar saya buk, dia sakit” ungkap Vina dengan nada sedih
“tapi ini udah lewat jam 9 malam, dia sakit apa?” “ demam buk “ jawab Vina, Farhan yang melihat merasa kasihan dan takjub, wanita ini demi temannya mau keluar & berusaha minta izin sama mama, di mata anak kos buk Desta memang di kenal Judes, dandi siplin kalau ada peraturan yang di langgar maka dia gak akan segan-segan ngasih hukuman, tapi Vina demi Desi rela di initrogasi lebih lanjut dulu untuk bisa keluar nyari obat dan itu belum tentu ketemu selain udah jam 9 lewat, dia juga belum tau daerah sini,
“biar Farhan anterin aja deh ma,,” sahut Farhan , Vina dan mama sempat terbelalak , tapi akhirnya mama kasih izi.
                                                                        ****
“oh jadi loe Vina??, yang bikin anak sekompleks jadi Taubat??” gurau Fandi setelah mendapatkan apa yang di cari tadi, Vina sempat heran, apa maksudnya perkataan Fandi tadi?
“Taubat?” ulang Vina gak ngerti “ iya,, gara-gara loe, anak-anak jadi ikutan rajin ke mesjid hahah” Vina jadi malu, wajahnya bersemu merah, Farhan sadar Cewek ini bukan cewek biasa dia beda, Farhan mulai merasa nyaman dan senang berada di samping Vina, Cewek pembawa perubahan itu.
                                                                        ****
            Vina kaget melihat Farhan yang sudah bertengger di depan pintu dan sudah rapi tapi kali beda Farhan bukan rapi dengan Kemeja dan Jins yang bisa di pakainya tapi sekarang dia sudah rapi dengan baju koko, sarung dan peci di kepalanya
“loooh Farhan kamu,,,?”
“yook, mau ke Mesjid kan??” potong Farhan Mantap, dalam Hati dia berseru riang
 Istimewanya cewek ini bisa ngerubah gue, dari sekedar nongkrong di Warkop, menjadi rajin nongkrong di Mesjid J”
                                                                        ****
NOTE :  Terkadang cewek itu memang Racun bagi Dunia, tapi Cewek itu juga bisa menjadi   Obat ketika kalian tau gimana cara memperlakukannya dengan Baik


                                                                                                            YAYANG SETIANI

Sunday, 15 June 2014


Senior Rika I love U
By: YAYANG SETIANI
Gila gue sampe lima kali ngucek-ngucek mata saat ngeliat si Ridho udah bertengger di atas tempat tidur gue, lagi asik-asik mimpi juga, dia emang sahabat gue sejak SD  tapi dia itu nyebelin suka banget nyosor kayak bebek gitu uuh, mana dia kurang perasa lagi jadi orang, ya maksudnya mau di katain apapun juga dia gak bakalan marah (gak mudah kesinggung) okeh mungkin itu salah satu kelebihannya dibanding gue yang ya sedikit emosian gitu J
“woiiii,,,,! Ngapain lo pagi-pagi udah di sini??” meski masih shock gue buru-buru introgasi dia
“lo lupa hari ini kita di ospek??” jawabnya santai sembari buka-buka majalah otomotiv gue yang emang berserakan dimana-mana
Gue baru inget hari ini adalah hari pertama kita masuk sekolah dan akhirnya gue SMA juga :D
“yaudah lo tunggu di luar sana” pinta gue sambil  menunjuk kearah pintu
****
“eh kumpul-kumpul” tiap sudut lapangan mulai sepi karena semua siswa baru yang bakalan di ospek udah pada merapat ke aula, Cuma kita berdua yang masih lari-larian di koridor, ya emang sih ini salah gue, untung yang salah gue kalau sempat Ridho yang ada di posisi gue uuuh abis deh dia
“udah jam berapa sekarang??” tiba-tiba seorang cewek berambut panjang, dengan mata bersoftlens kecoklatan dan sedikit polesan lip glosh menghadang kita berdua, mungkin dalam pikiran Ridho sekarang adalah
Habislah kita sekarang
Tapi kalau gue
OMG ini manusia apa bidadari?? Di sekolah gue yang dulu kok gak ada yah? Makhluk yang beginian??
“ma maaf kak kita” Ridho kelihatan panik
“push up 50 kali” suaranya kedengaran tegas, tapi tetep manis banget J
“oi rid push up” ajak ridho sambil nyenggol gue yang tadi sempat mematung
****
Wajah manis, tegas cewek itu masih terbayang jelas di pikiran gue, huuuh bener-bener spesies langka,
Gak salah emang gua milih sekolah disini
Bayang gue saat sedang mencabut rumput halaman depan sekolah ini tugas kita yang entah keberapa puluh kalinya sumpah capek mana panas lagi huuuh
“ngelamun aja mas bro,,!” gue tadi yang lagi fokus(mikirin cewek kemarin) jadi gak konsen kan?
“ah ngapain sih lo disini jatah lo kan disana tuh” tunjuk gue kearah asal-asal biar dia cepet kabur aja, tapi tak sedikitpun memandang kearahnya karena males harus berhadapan dengan sengatan sinar matahari  yang tepat di atas ubun-ubun
“jatah lo aja blom kelar kan??”
“bukan urusan,,,” gue baru sadar suara itu, iya suara cewek semalaman bikin gue gak bisa tidur(karena banyak nyamuk juga) gak peduli lagi dengan panas matahari gue langsung melihat ke sosok itu, ternyata dia sedang berdiri berkacak pinggang
“jelas urusan gue dong..!” dia malah  kelihatan lebih manis dengan kedua tangannya di pinggang (mirip model iklan obat urut)
“maaf mbak, eh kak oh,,”
“panggil gue Senior Rika, okeh Farid jatah lo sekarang di tambah 2 meter lagi ,,,,
 have fun J ya” kemudian dia berlari ke arah kelas gue masih bisu, dari mana dia tau nama gue??
(ya jelas lah gue kan pakek papan nama” bego...!
****
Gue kan cowok, kenapa gue gak langsung nyatain perasain gue ke dia??
Batin gue saat melihat senior Rika sedang membimbing kita di depan
“FARID.....!” somplak gue sampek jungkir balik saking kagetnya suara senior Rika gila menggelegar(lebay ya??)
“berdiri di depan...!” perintahnya, gue harus ngelakuin apa lagi selain nurut aja
Hilang deh coolnya gue, berdiri di depan puluhan bahkan ratusan siswa baru ini
“sekarang loe baca puisi buwat seseorang, ato siapa aja boleh asal gak buat kuntilanak aja hahahah” gak lucu kali :p, puisi?? ah Gila aja gue gak bisa baca puisi mana yang nyuruh bukan senior Rika lagi malah senior belagak tegas ,
Tiba-tiba gue kepikiran buat ngungkapin perasaan gue ke senior Rika, siapa tau aja dia bakalas salut sama keberanian gue ini??
Meski dengan tangan bergetar, gue rampas aja tuh micrefon yang lagi dipegang sama senior belagu itu,
“hmmm” gue mencoba mengumpulkan segenap rasa percaya diri gue, gak peduli dengan beberapa bulir asem keringat yang udah sedari tadi menetes di dahi
“gue gak peduli ini termasuk puisi atau gak?? Yang jelas Senior RIKA I LOVE YOU” ruangan Aula yang tadinya sepi, kini berganti dengan suit-suitan dan tepuk tangan
Gue mencoba untuk ngejar senior Rika buat berlutut langsung di hadapannya tapi dia udah keburu kabur
“Senior Rikaaa....!”  tiba-tiba bahu gue kerasa ada yang pegang dan seterusnya gue lupa semua gelap.
****
Dengan rasa nyeri di bagian bawah pipi, gue mulai sadar sekarang kalau gue lagi berbaring di UKS
“Rid lo udah sadar??”raut wajah Ridho kelihatan begitu cemas
“ lo sih, pake nyatain cinta ke cewek orang segalak gini kan jadinya??”
“hah,,, cewek orang?” maksudnya apaan? Gue kan baru sadar jadi masih rada bingung gitu
“iya bego, senior Rika itu Pacarnya Herman, kakak kelas kita waktu di SMP dulu” gue baru tau plus inget kalau herman itu musuh bebuyutannya kakak si Ridho, bang Aldi mereka juga dulu pernah berantem sampe bang Aldi sekarang pindah ke Bandung.
****
Gue berasa sejuk plus takut juga karena senior Rika tiba-tiba aja nyamperin gue waktu lagi istirahat di bawah pohon rindang dekat lapangan basket
“Sorry,,!”
“Sorry kenapa?” gue pura-pura gak inget aja sama kejadian memalukan itu
“Sorry, karena Herman udah mukulin lo kemarin”
“ooh gak papa lagi” gak papa apanya?? Padahal gue dendam banget tuh sama dia
“hmmm oyah gue juga mau ngucapin Terimakasih, berkat lo , gue udah punya alesan putus sama dia sekarang..!” hah gue kaget sama kata-katanya barusan
“sebenernya, udah lama  juga gue mau putus sama dia tapi ya gitu deh”jelas senior Rika yang langsung buat gue kembali berbunga-bunga karena punya kesempatan besar buat dapetin  hatinya
“ jadi,,,? Senior Rika??”
“epph,, tunggu dulu , gue gak mau punya pacar brondong” potongnya kembali Tegas
****
.